Ingin Sukses Investasi Saham, Inilah 25 Aturan Dari Peter Lynch

Ingin Sukses Investasi Saham, Inilah 25 Aturan Dari Peter Lynch

peter-lynch

Jika Anda adalah pengamat di Dunia Saham, maka akan pernah mendengar nama Peter Lynch dimana Beliau adalah seorang pebisnis dan pengelola dana besar(Reksadana) tersukes dalam zaman modern ini dari tahun 70an hingga 90an dengan growth asset sebesar 29% per tahun. Jika Anda ingin sukses menjadi Investor dalam dunia Saham, maka perlu memperhatikan 25 Aturan Investasi yang dilakukan Peter Lynch selama ini. Berikut GoSaham akan menuliskan:

25 Aturan Investasi Dari Peter Lynch

  1. Investasi itu menyenangkan, bergairah, dan berbahaya jika anda tidak mengerjakan PRmu.
  2. Keunggulan anda sebagai investor bukanlah sesuatu yang didapat dari ahli saham di Wall Street. Anda bisa mengalahkan para ahli jika anda berinvestasi di perusahaan yang anda ketahui.
  3. Selama 30 tahun terakhir, pasar saham dipenuhi oleh para profesional investor. Berlawanan dengan kepercayaan yang populer, ini membuat lebih gampang investor amatir, anda, untuk mengalahkan pasar jika anda mengacuhkan gerombolan itu.
  4. Di belakang setiap saham ada perusahaan. Cari tahu apa yang dia lakukan.
  5. Sering tidak ada hubungan antara kisah sukses perusahaan dalam beroperasi dengan kesuksesan saham untuk jangka pendek. Tapi untuk jangka panjang, hubungan ini adalah 100 persen. Dan perbedaan inilah kunci menghasilkan untung. Adalah berharga untuk sabar, dan memiliki perusahaan yang sukses.
  6. Anda harus mengetahui apa yang anda miliki, dan mengapa anda memilikinya. “Ini akan segera naik!!!!!” tidaklah termasuk.
  7. Lemparan jarak jauh cenderung untuk meleset.
  8. Memiliki saham seperti memiliki anak – jangan terlibat dengan jumlah yang melebihi kapasitas anda.
  9. Jika anda tidak bisa menemukan perusahaan yang menarik bagi anda, taruhlah uang anda di bank sampai anda menemukannya.
  10. Jangan pernah berinvestasi di perusahaan tanpa mengerti keuangannya. Kerugian terbesar datang dari saham dengan laporan keuangan yang jelek. Selalu lihat laporan keuangan untuk melihat apakah perusahaannya kuat sebelum anda mempertaruhkan uang anda.
  11. Hindari saham favorit di industri favorit. Perusahaan hebat, di industri yang dingin, konsisten sebagai pemenang.
  12. Dengan perusahaan kecil, anda lebih baik menunggu sampai mereka menghasilkan laba sebelum anda berinvestasi.
  13. Jika anda ingin berinvestasi di perusahaan yang bermasalah, belilah perusahaan yang memiliki kekuatan bertahan. Dan tunggu signal pemulihannya. Ada industri yang tidak akan pernah membaik.
  14. Jika anda berinvestasi $ 1.000 di saham, paling sial anda akan kehilangan $ 1.000, tapi jika anda sabar, keuntungan $ 10.000 atau $ 50.000 menanti anda. “Orang2 biasa” biasa dapat memegang beberapa perusahaan terbaik, sedangkan para fund manager wajib melakukan diversifikasi. Dengan memiliki terlalu banya saham, anda kehilangan keuntungan dari konsentrasi. Diperlukan hanya sedikit saham pemenang untuk menghasilkan keuntungan maksimal seumur hidup.
  15. Di setiap industri dan daerah, selalu ada orang amatir yang bisa menemukan perusahaan hebat yang sedang bertumbuh jauh sebelum dilakukan para profesional.
  16. Penurunan di pasar saham adalah kepastian seperti badai Januari di COlorado. Jika anda bersiap, ini tidak akan melukai anda. Penurunan adalah kesempatan untuk memungut diskon yang ditinggalkan oleh kepanikan investor yang kabur dari badai.
  17. Setiap orang memiliki kecerdasan untuk sukses di saham, tapi tidak untuk mental. Jika anda cenderung panik, anda harus menghindari berinvestasi di pasar saham.
  18. Selalu ada yang harus dikuatirkan. Hindari beban di weekend, dan jauhi prediksi para analis. Jual saham hanya ketika fundamental berubah, bukan karena langit jatuh.
  19. Tidak ada yang bisa memprediksi suku bunga, masa depan ekonomi, ataupun pasar saham. Jauhi semua ramalan dan konsentrasi saja pada apa yang sedang terjadi di perusahaan yang anda investasikan.
  20. Jika anda mempelajari 10 perusahaan, anda akan menemukan 1 yang bagus. Jika anda melihat 50, anda akan menemukan 5. Selalu ada kejutan menyenangkan di pasar saham – perusahaan yang diabaikan oleh para ahli.
  21. Jika anda tidak memperlajari perusahaan, rasio sukses anda di pasar saham sama seperti jika anda bermain poker tanpa melihat kartu.
  22. Waktu ada di pihak anda ketika anda memiliki perusahaan yang hebat. Yang penting anda sabar menanti – bahkan jika anda melewatkan wall-mart di 5 tahun pertama, adalah saham yang bagus untuk 5 tahun berikutnya.
  23. Jika anda ada mental, tapi tidak ada waktu atau kemampuan mengerjakan PR, investasikan dalam reksadana. Diversifikasi menurut keperluan dan jenis reksadananya. Memiliki 6 yang sama bukanlah diversifikasi.
  24. Di antara pasar saham utama di dunia, pasar Amerika ada di urutan 8 profit sepanjang 10 tahun terakhir. Anda bisa mendapat lebih dengan berinvestasi pada perusahaan yang bagus di luar negeri.
  25. Di jangka panjang, portofolio yang disusun dari saham yang bagus cenderung mengalahkan pasar uang. Di jangka panjang, portofolio yang disusun dari saham jelek tidak akan mengalahkan uang yang disimpan di bawah kasur.

Apa Itu ROA, ROE, ROI? Berpengaruhkah Dalam Valuasi Emiten Saham??

Apa Itu ROA, ROE, ROI? Berpengaruhkah Dalam Valuasi Emiten Saham??

 

Kita dalam menjadi Investor, membutuhkan beberapa Variabel yang digunakan untuk menghitung suatu Valuasi Perusahaan apakah layak menjadi tempat investasi atau tidak. Variabel seperti ROA, ROE, ROI serta PBV sering menjadi pertimbangan seorang Investor akan membelinya atau tidak.

Pengertian, Definisi Return on Investment

Return on Investment atau biasa disebut ROI, lebih dikenal dengan laba atas investasi. ROI merupakan ukuran atau indeks yang menunjukkan sebarapa besar laba atau keuntungan yang di dapat atas investasi yang telah ditanam pada perusahaan. Dengan kata lain seberapa besar investasi yang telah ditanam dapat dikembalikan menjadi keuntungan atau laba.

Return on Assets, ROA, Laba atas Aset

Laba atas Aset merupakan rasio keuangan yang merepresentasikan seberapa efektif  aset perusahaan digunakan  untuk menghasilkan laba.  Rasio ini memberikan informasi besarnya laba yang diperoleh dari total asset yang dimiliki oleh perusahaan. Laba bersih adalah laba setelah bunga dan pajak, atau earning after interest and tax. Total asset merupakan modal dari pinjaman dan modal sendiri. Jadi pada dasarnya rasio ini menunjukkan laba bersih yang diperoleh dari modal sendiri dan modal pinjaman. Formula untuk menghitung rasio Return on Assets, ROA, adalah sebagai berikut:

ROA = Laba bersih / Total Assets

Dari formulanya diketahui bahwa Return on Assets, atau ROA menunjukkan besarnya pendapatan bersih yang diperoleh perusahaan dari seluruh asset yang dimilikinya. Nilai rasio 0,25 atau 25 persen menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba bersih yang nilainya 25 persen dari total asetnya.

Semakin besar nilai rasionya, maka semakin besar dana yang dapat dikembalikan dari total asset perusahan menjadi laba. Artinya semakin besar laba bersih yang diperoleh perusahaan, semakin baik kinerja perusahaan tersebut.

Return on Equity, ROE, Laba atas Ekuitas

Laba atas ekuitas, atau Return on Equity, atau ROE merupakan rasio keuangan yang dapat  menunjukkan besarnya laba bersih  yang diperoleh dari ekuitas yang dimiliki perusahaan. Sedangkan equity merupakan modal yang dimiliki perusahaan sendiri, bukan dari pinjaman. Jadi pada dasarnya rasio ini menunjukkan seberapa besar laba yang diperoleh dari modal sendiri. Formula untuk menghitung rasio Return on Equity, ROE, adalah sebagai berikut:

ROE = Laba bersih / Ekuitas

Dari formulanya diketahui bahwa Return on Equity, atau ROE menunjukkan besarnya pendapatan bersih yang diperoleh perusahaan dari equity yang dimilikinya. Nilai rasio 0,20 atau 20 persen menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba bersih yang nilainya 20 persen dari ekuitasnya.

Semakin besar nilai rasionya, maka semakin besar dana yang dapat dikembalikan dari ekuitas menjadi laba. Artinya semakin besar laba bersih yang diperoleh dari modal sendiri. ROE tinggi akan menyebabkan posisi pemilik modal perusahaan semakin kuat.

ROE > EM

Dimana EM adalah angka pengganda ekuitas ( equity multiplier )

EM = ( total aktiva ) / ( ekuitas )

Angka EM menunjukkan perbandingan antara total aktiva dengan total ekuitas. Makin besar angka EM maka komponen sumber dana dalam bentuk modal sendiri untuk membiayai aktiva semakin kecil. Jika ingin meningkatkan profitabilitas ( ROE dan ROA semakin besar ), maka bank mengalami penurunan dalam hal likuiditas karena angka EM makin besar yakni, yang berarti kewajiban bank semakin meningkat.

Pustaka:

Kasmir, 2011, “Analisis Laporan Keuangan”, Rajagrafindo Persada, Jakarta

Prihadi, T., 2008, “ 7 Deteksi Cepat Kondisi Keuangan: Analisis Rasio Keuangan, Studi Kasus Perusahaan Indonesia”, Penerbit PPM., Jakarta.

Mana Yang Lebih Menguntungkan, Invest? Atau Menabung?

Mana Yang Lebih Menguntungkan, Invest? Atau Menabung?

 

Menabung atau Investasi? Jika penulis ingin bertanya hal tersebut, menurut Anda apa jawaban yang bisa Anda berikan atau apakah ada perbedaan di antara keduanya?

Sebelum saya membahas tentang Menabung dengan Investasi, izinkan penulis menyampaikan beberapa hal terlebih dahulu. Penulis teringat pada masa kanak-kanak dahulu bagaimana orangtua mengajarkan arti menabung, yaitu dengan menempatkan dana pada “celengan” dan ketika sudah penuh maka kita bisa mengambil uang yang sudah terkumpul setelah periode waktu tertentu.

Ketika beranjak dewasa, kita mulai mengenal dengan istilah Bank, di mana kita menyetor sejumlah uang tertentu dan kita diwajibkan membuka suatu rekening di bank tersebut. Setelah sekian lama menabung di bank dan bahwa sebenarnya Menabung bukanlah Investasi. Mengapa demikian?

Dalam sepengetahuan penulis saat ini ketika artikel ini dibuat, bunga bank sekarang berkisar antara 3-4% untuk tabungan dan sekitar 6-8% untuk deposito. Pertanyaan saya selanjutnya, apakah Anda tahu mengenai inflasi?

Penulis yakin Anda pernah mendengar kata inflasi, namun apakah Anda benar-benar mengetahui arti sesungguhnya arti inflasi yang sebenarnya? Secara sederhana, inflasi berarti kenaikan harga di dalam suatu perekonomian negara.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, rata-rata inflasi Indonesia antara 2005-2010 berkisar 8% hingga 9%. Artinya setiap tahun terdapat kenaikan harga sebesar 8%-9% pada kebutuhan pokok masyarakat Indonesia.

Pengertian lainnya, kita harus membayar “lebih mahal” untuk kebutuhan pokok tersebut setiap tahunnya. Misalnya, harga beras saat ini Rp100.000/kg dengan inflasi 9%, maka kita harus membayar lebih mahal sebesar Rp109.000/kg.

Jika Anda bandingkan suku bunga bank saat ini dengan inflasi, menurut Anda saat ini apakah uang yang sudah Anda tabung setiap tahunnya mengalami kenaikan atau penurunan? Penulis yakin jawaban pertanyaan tersebut adalah penurunan.

Itulah sebabnya bank saat ini bukan tempat yang aman untuk kita berinvestasi. Bank hanya bisa digunakan untuk emergency fund (akan dibahas lebih lanjut pada artikel selanjutnya) atau kebutuhan sehari-hari dalam jangka waktu pendek.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana jika kita ingin mengembangkan uang kita? Maka jawaban yang paling tepat adalah INVESTASI. Masalahnya, bagaimana kita berinvestasi? Produk apa yang tepat untuk kita investasi?

Jika kita mengingat orang-orang zaman dahulu bahkan sampai sekarang, maka jawaban yang umum adalah tanah dan emas. Mengapa? Jawaban sederhananya adalah jumlah populasi yang bertambah menyebabkan harga tanah menjadi naik, sedangkan emas adalah sumber daya alam yang habis terpakai. Artinya, suatu saat supply emas akan habis, padahal emas merupakan produk investasi yang sering digunakan untuk investasi jangka panjang, tidak goyah terhadap inflasi dan sebagai perhiasan.

Masalah umum yang terjadi yaitu, kita membutuhkan modal yang umumnya relatif besar untuk investasi tanah dan penyimpanan jika kita berinvestasi pada emas.

Itulah sebabnya, penulis juga ingin menambahkan ada produk investasi lainnya, yaitu produk-produk yang terdapat di Pasar Modal misalnya Obligasi, Reksa Dana maupun Saham.

 

Sumber

Apakah PER Itu?? Seberapa Pengaruhnya Dalam Valuasi Emiten?

Apakah PER Itu?? Seberapa Pengaruhnya Dalam Valuasi Emiten?

logo-idx_20151118_163244

PER dikenal sebagai salah satu indikator terpenting di pasar modal. Definisi resminya kira-kira adalah suatu rasio yang menggambarkan bagaimana keuntungan perusahaan atau emiten saham (company’s earnings) terhadap harga sahamnya (stock price).

Perhitungan rasio P/E atau PER dilakukan dengan cara membagi harga saham saat ini (current price of the stock) dengan keuntungan tahunan per saham (annual earnings per share-EPS).

Misalnya, emiten saham ABCD mempunyai keuntungan bersih per saham (earning per share) sebesar Rp200, dengan harga sahamnya saat ini Rp2.000 per lembar, maka PER ABCD adalah 10. Artinya jika kita berinvestasi saat ini pada saham ABCD maka masa kembali modal pokoknya (payback period)-nya sekitar 10 tahun.

Mengapa demikian? Itu karena kita membeli saham tersebut dengan 10 kali laba bersih per sahamnya (EPS) dengan asumsi inflasi 0% dan ABCD mempunyai tingkat keuntungan tetap Rp200 per saham.

Untuk mendapatkan tingkat imbal hasil saham (return), maka cukup dihitung dengan 1/PER saja, sebagai contoh imbal hasil ABCD adalah 1/10, yaitu 10% per tahunnya.

Kemudian kita bandingkan dengan return pasar, apabila return saham lebih tinggi dari return pasar, maka saham tersebut layak dibeli begitu juga sebaliknya. PER juga dapat dipakai untuk membandingkan kinerja antar saham atau antar sektor bahkan antar pasar dalam skala regional ataupun global.

PER juga merupakan angka psikologis bagi value investor dimana PER yang kecil akan lebih menarik dibandingkan dengan PER tinggi. PER rendah ini disebabkan oleh laba per saham yang relatif tinggi dibandingkan dengan harga sahamnya, sehingga tingkat return-nya lebih baik dan payback period-nya lebih singkat lagi. PER yang kecil merupakan salah satu pertimbangan utama bagi value investing di samping faktor-faktor lainnya.

Maka PER saham yang lebih tinggi dari PER pasar kurang baik untuk investasi jangka panjang, namun dapat dilakukan untuk short-run atau trading dengan pertimbangan teknikal saja. Seorang investor yang cerdas akan menghindari saham dengan PER tinggi, apalagi saham itu mempunyai volatilitas yang tinggi sehingga memiliki potensi risiko yang tinggi pula.

Pada saat ini di mana harga saham berjatuhan, maka PER saham anjlok drastis hampir sebesar rata-rata 60% dan PER pasar sudah di bawah 10, maka ini merupakan sinyal kuat untuk memulai investasi nilai seiring dengan momentum krisis ekonomi.

Bahkan beberapa saham unggulan sudah mencapai PER di bawah 5. Bagi value investor momentum ini merupakan peluang investasi jangka panjangnya.

Semoga bermanfaat, selamat berinvestasi…

 

Sumber

Apa PBV Itu?? Pentingkah PBV Untuk Diperhatikan?

Apa PBV Itu?? Pentingkah PBV Untuk Diperhatikan?

 

Dalam berinvestai di Dunia Saham, banyak istilah-istilah Fundamental yang muncul, seperti ROA, ROE, ROI, DER, PER, EPS, PBV, dan lain sebagainya. Namun pada kesempatan kali ini, GoSaham akan membahas mengenai Apa itu PBV? Pentingkah PBV itu?

Secara umum, P/BV adalah sebuah indikator penting dalam investasi walaupun sebagian analis menganggap sudah kurang relevan lagi karena berbagai alasan.

Namun, bagaimanapun juga, P/BV ini merupakan rasio yang sudah secara luas dipakai di berbagai analisis sekuritas dunia. Rasio P/BV ini didefinisikan sebagai perbandingan nilai pasar suatu saham (stock’s market value) terhadap nilai bukunya sendiri (perusahaan) sehingga kita dapat mengukur tingkat harga saham apakah overvalued atau undervalued.

Perhitungannya dilakukan dengan membagi harga saham (closing price) pada kuartal tertentu dengan nilai buku kuartal persahamnya. Beberapa pihak menyebutnya dengan “price-equity ratio”.

Semakin rendah nilai P/BV suatu saham maka saham tersebut dikategorikan undervalued, yang mana sangat baik untuk memutuskan investasi jangka panjang. Nilai rendah PBV ini harus disebabkan oleh turunnya harga saham, sehingga harga saham berada di bawah nilai bukunya atau nilai sebenarnya.

Namun, rendahnya nilai P/BV ini juga dapat mengindikasikan menurunnya kualitas dan kinerja fundamental emiten yang bersangkutan (fundamentally wrong).

Oleh karena itu, nilai P/BV harus kita bandingkan juga dengan P/BV sektor yang bersangkutan. Apabila terlalu jauh perbedaannya dengan P/BV industrinya maka sebaiknya perlu dianalisis lebih dalam lagi.

Menariknya, P/BV ini juga memberikan sinyal kepada investor apakah harga yang kita bayar/investasikan kepada perusahaan tersebut terlalu tinggi atau tidak jika diasumsikan perusahaan bangkrut tiba-tiba (bankrupt immediately).

Karena jika perusahaan bangkrut, maka kewajiban utamanya membayar utang terlebih dahulu, baru sisa aset (kalau ada) dibagikan kepada para pemegang saham. Ada kelemahan rasio keuangan ini, di mana nilai ekuitas dipengaruhi langsung oleh saldo laba perusahaan yang diakumulasi dari laba/rugi pada income statement.

Jadi konsep utama P/BV adalah kapitalisasi pasar dibagi oleh nilai buku. Nilai buku dapat dengan basis seluruh perusahaan atau per sahamnya saja. Rasio ini jelas membandingkan nilai pasar terhadap nilai perusahaan berdasarkan laporan keuangan (financial statements).

Maka dapat diartikan bahwa semakin tinggi nilai P/BV suatu saham mengindikasikan persepsi pasar yang berlebihan terhadap nilai perusahaan dan sebaliknya jika P/BV rendah, maka diartikan sebagai sinyal good investment opportunity dalam jangka panjang.

Namun untuk beberapa jenis perusahaan, rasio P/BV ini kurang ampuh lagi karena adanya kesulitan mendasar bagi akuntansi tradisional untuk perusahaan berbasis teknologi tinggi. Aset utama perusahaan jenis ini adalah ”intellectual property” yang merupakan ”great value” yang sulit dicatatkan dalam akuntansi keuangan biasa. Sehingga book value perusahaan jenis ini tidak merefleksikan kekayaan sebenarnya dari perusahaan teknologi ini.

Secara umum nilai P/BV ini lebih diminati oleh value investor ketimbang growth investor.

 

Tulisan ini dari Sumber.

Investasi vs Spekulasi

Investasi vs Spekulasi

INVEST! Don’t Speculate

Warren Buffet

Investasi vs Spekulasi

Kata Kata Warren Buffet diatas pasti sudah tidak asing di Telinga kita. tapi terkadang kita tidak merenungkan makna mendalam dari kalimat tersebut. Seperti di kutip dalam film Wall Street: Money Never Sleeps “The Root of  all Evil is Speculation”. Terdengar Aneh memang, akan tetapi Spekulasi lah yang menjadi Penyebab dari Market Crash, Loss Saham secara besar-besaran dalam Investasi saham.

Lantas Apa itu investasi? apa yang membedakan investasi dengan spekulasi? Banyak orang mengatakan “saya berinvestasi di Saham” padahal sebenarnya dia sedang berspekulasi. Banyak orang mengatakan INVESTASI SAHAM = JUDI saya sudah Rugi sekian banyak.. padahal yang mereka lakukan sebenarnya bukanlah ber Investasi akan Tetapi mereka berspekulasi. Hal yang Paling Umum Tejadi:

  • Menyangka bahwa Anda sedang berinvestasi, padahal anda berspekulasi.
  • Berspekulasi dengan serius, padahal anda tidak punya pengetahuan yang memadai, bahkan hanya sekedar ikut-ikutan.
  • mempertaruhkan uang dalam jumlah lebih besar untuk sebuah spekulasi yang resikonya tidak sanggup kita tanggung.

Definisi Investasi ala Ben Graham

BGo Saham

Benjamin Graham, sebagai Bapak Investasi, sekaligus Mentor dari Warren Buffet mengatakan dalam bukunya The Intellegent Investor: “Investasi adalah Tindakan yang melalui Investasi Menyeluruh, Menjanjikan Keamanan Dana Pokok, & Memberikan Return yang Memadai, Tindakan yang tidak memenuhi 3 unsur diatas bukanlah sebuah Tindakan Investasi.

Mari Kita renungkan definisi Bapak Investasi diatas… dan Kaitkan dengan tindakan-tindakan Investasi yang kita lakukan hingga saat ini. Jika ada portofolio kita yang Loss apakah saat itu kita sedang berinvestasi atau sedang berspekulasi?, Jika Broker kita mengatakan saham ABCD akan naik 20% secara bla bla bla lalu kita Ambil Posisi BUY. apakah saat itu kita sudah melalui Kerangka berpikir di 3 Unsur diatas?

Winning The Game of Stock

Money is a Game, You have to know how to play it?

Adam Khoo

Investasi Saham adalah Intellectual Sports, sebuah permainan Intelektual… maksudnya kita tidak bisa melibatkan emosi dalam berinvestasi saham, Jika kita melibatkan emosi yang bermain maka keputusan kita akan irrational, dan keputusan yang salah mengakibatkan kerugian dalam Investasi kita

Rational vs Luck

Investasi Saham bukanlah untung-untungan, bukanlah berdasarkan bejo maupun yang lebih Konyol lagi ada yang menganalisis saham menggunakan Zodiak. Untuk Sukses di Investasi Saham anda hanya perlu 2 hal. Pertama adalah Kerangka Berpikir yang bernar, yang kedua adalah Mental yang Konsisten. Jika Anda memiliki 2 Hal diatas saya yakin Portofolio Anda akan meningkat dari waktu ke waktu. (Insya Allah akan dibahas di Artikel Selanjutnya)